https://jbkd.ft.unand.ac.id/index.php/jbkd/issue/feedJurnal Bangunan, Konstruksi & Desain2026-07-17T05:32:49+00:00Benny Hidayat, PhDjbkd@eng.unand.ac.idOpen Journal Systems<p><em>Jurnal Bangunan, Konstruksi & Desain</em> (JBKD) is a peer-reviewed open-access journal that publishes research and scholarly articles in the fields of building design, construction, and civil engineering. The journal focuses on topics such as structural engineering, construction materials, construction management, geotechnical engineering, transportation systems, and sustainable building practices. JBKD aims to provide a platform for academics, professionals, and researchers to share their findings and contribute to the advancement of construction science and engineering. All articles are freely available under the Creative Commons Attribution-NonCommercial (CC BY-NC) license.<br /><strong><br />Profile</strong>:<br /><a href="https://scholar.google.com/citations?user=yFlt1x4AAAAJ&hl=en">Google Scholar</a> | <a href="https://search.crossref.org/search/works?q=3021-7547&from_ui=yes" target="_blank" rel="noopener">Crossref</a> | <a href="https://garuda.kemdikbud.go.id/journal/view/34312" target="_blank" rel="noopener">Portal Garuda</a> | <a href="https://app.dimensions.ai/discover/publication?search_mode=content&search_text=%22Jurnal%20Bangunan%3A%20Konstruksi%20%26%20Desain%22&search_type=kws&search_field=full_search" target="_blank" rel="noopener">Dimensions</a><br /><a href="https://doaj.org/toc/3021-7547">DOAJ</a> | <br /><br /></p>https://jbkd.ft.unand.ac.id/index.php/jbkd/article/view/182Analisis Kapasitas Lentur Balok Baja Dengan Variasi Panjang Bentang2026-07-16T00:23:40+00:00Nidiasari Nidiasarinidia@eng.unand.ac.id<p>This study aims to analyze the effect of length on the flexural capacity of WF section steel beams. Length variations are explained in terms of the unconfined length limits specified in AISC 360: short, intermediate, and long beams. The method used is numerical analysis, calculating the nominal flexural capacity (Mn) at various beam lengths using a 150×75 WF section. The results show that the maximum flexural capacity occurs at short beams, then decreases at intermediate beams due to inelastic lateral-torsional buckling, and decreases significantly at long beams due to elastic buckling. The ratio of the ultimate load capacity to the analytical load capacity at short beams is 0.83 and 1.12, intermediate beams 1.27 and 1.14, and long beams 1.44 and 1.7. In general, the theoretical and numerical capacities exhibit the same trend: a decrease in flexural capacity with increasing beam length.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Nidiasari Nidiasarihttps://jbkd.ft.unand.ac.id/index.php/jbkd/article/view/184Analisis Elevasi Muka Air Banjir Pada Sungai Batang Tampunik Kabupaten Padang Pariaman2026-07-16T04:51:32+00:00Februarman Februarmanfebru.6423@gmail.comVarhan Adely Putravarhanadely2111@gmail.comAulia Rahmadhaniauliarahmadhani272@gmail.com<p>Tingginya laju erosi pada daerah aliran sungai (DAS) menyebabkan sedimentasi pada alur sungai yang dapat mempengaruhi arah aliran, sehingga alur sungai dapat berpindah. Salah satu sungai yang mengalami sedimentasi adalah sungai Batang Tampunik di kabupaten Padang Pariaman. Dari beberapa kejadian curah hujan tinggi, sungai ini mengalami banjir yang menyebabkan genangan pada lahan pertanian dan sebagian permukiman. Tujuan penelitian adalah untuk memperkirakan elevasi pernukaan air pada sungai Batang Tampunik dengan menggunakan aplikasi HEC-RAS untuk debit banjir rencana kala ulang (<em>return period</em>) 50 tahun. Dari hasil analisis data curah hujan untuk tiga stasiun penakar hujan, yaitu Kasang, Paraman Talang, dan Lubuk Napar dengan menggunakan metoda HSS-SCS untuk luas DAS 96,78 km<sup>2</sup> diperoleh debit banjir rencana kala ulang 50 tahun sebesar 220 m<sup>3</sup>/s. Selanjutnya hasil simulasi HEC-RAS dengan kondisi aliran tetap (<em>steady flow</em>) pada 67 penampang melintang (<em>cross section)</em> sepanjang 3,526 km, menunjukkan limpasan terjadi hampir disepanjang ruas sungai yang ditinjau dengan ketinggian antara 1,0 m sampai dengan 2,9 m diatas tanggul eksisting. Disamping itu hasil simulasi menunjukkan tingkat kesesuaian yang dapat diterima, dimana riwayat banjir lapangan setinggi ±2,0 meter di STA P-139 dan ±2,50 meter di STA P-138 berhasil terprediksi oleh model dengan elevasi tinggi luapan yang terjadi masing-masing 1,55 meter dan 2,07 meter. Jadi dari hasil simulasi ternyata kapasitas sungai eksisting jauh lebih kecil dari debit banjir kala ulang 50 tahun. Oleh karena itu perlu diupayakan untuk melakukan pekerjaan normalisasi pada ruas sungai ini.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Februarman Februarman, Varhan Adely Putra, Aulia Rahmadhanihttps://jbkd.ft.unand.ac.id/index.php/jbkd/article/view/185Optimasi Konfigurasi Bresing Konsentris Ditinjau Dari Biaya Konstruksi, Kemudahan Fabrikasi, Dan Metode Ereksi Struktur Baja2026-07-16T00:20:51+00:00Febiana Maulanifebianamaulani@eng.unand.ac.idJeply Murdiaman Gucijeplymurdiaman@eng.ac.idRiko Zulhendrajeplymurdiaman@eng.ac.idSuci Putri Elzasuci.putri@mercubuana.ac.id<p>Pemilihan konfigurasi bresing konsentris pada struktur baja tidak hanya memengaruhi kinerja struktur, tetapi juga biaya konstruksi, kemudahan fabrikasi, dan metode ereksi. Penelitian ini merupakan pengembangan dari studi komparatif sistem bresing konsentris pada warehouse dengan konfigurasi X, Inverted V, K, dan Diagonal. Kajian difokuskan pada pekerjaan bresing saja, tanpa memasukkan elemen struktur lain seperti kolom, balok, rafter, gording, dan ikatan angin. Berat total bresing yang dianalisis adalah 2.917,18 kg untuk tipe X, 2.103,61 kg untuk Inverted V, 2.492,44 kg untuk K, dan 2.625,46 kg untuk Diagonal. Biaya dihitung menggunakan HSP Kota Padang Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp60.618,43/kg. Hasil analisis menunjukkan bahwa Inverted V memiliki biaya terendah, yaitu Rp127.517.536 atau 27,89% lebih murah dibandingkan tipe X. Namun, berdasarkan batasan kinerja struktur, tipe X tetap menjadi konfigurasi paling layak secara teknis.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Febiana Maulani, Jeply Murdiaman Guci, Riko Zulhendra, Suci Putri Elzahttps://jbkd.ft.unand.ac.id/index.php/jbkd/article/view/186Analisis Konsentrasi Polutan Gas Akibat Sektor Transportasi Di Udara Ambien Roadside Kota Padang2026-07-16T05:33:06+00:00Yenni Ruslindayenni@eng.unand.ac.idHendra Gunawanhendra@eng.unand.ac.id<p>Di wilayah perkotaan, aktivitas transportasi tercatat sebagai kontributor utama menurunnya mutu udara. Melalui kajian ini, pola persebaran konsentrasi empat jenis gas polutan, yaitu CO, NO<sub>2</sub>, SO<sub>2</sub>, dan HC, di udara ambien tepi jalan (roadside) Kota Padang ditelaah secara temporal. Titik pemantauan beserta tata cara pengambilan contoh gas ditetapkan mengikuti ketentuan SNI 19-7119.9-2005, dengan tiga ruas jalan sekunder sebagai lokasi sampling, yakni Jalan Raya By-Pass, Jalan Bagindo Aziz Chan, dan Jalan Perintis Kemerdekaan. Contoh gas dihimpun memakai metode absorpsi dengan Gas Sampler Ambient pada interval setiap jam sepanjang satu hari, terkecuali gas HC yang diambil tiap tiga jam, lalu konsentrasinya ditetapkan lewat metode spektrofotometri. Rentang konsentrasi hasil pengukuran adalah 285,16-376,99 µg/Nm<sup>3</sup> untuk CO, 69,66-84,31 µg/Nm<sup>3</sup> untuk NO<sub>2</sub>, 30,91-51,75 µg/Nm<sup>3</sup> untuk SO<sub>2</sub>, serta 81,48-84,31 µg/Nm<sup>3</sup> untuk HC. Terhadap baku mutu udara ambien nasional (PP RI No. 22 Tahun 2021), keempat nilai tersebut belum melampaui ambang yang disyaratkan. Kadar CO, NO<sub>2</sub>, dan HC paling tinggi teramati di Jalan Perintis Kemerdekaan seiring padatnya lalu lintas di ruas jalan tersebut; adapun untuk SO<sub>2</sub>, puncaknya berpindah ke Jalan Raya By-Pass akibat dominannya kendaraan diesel, yaitu truk dan bus, yang melewatinya. Secara umum, konsentrasi keempat gas mulai menanjak sejak pukul 07.00 dan memuncak menjelang sore pukul 16.00-18.00, lalu perlahan menurun sampai dini hari sesudah pukul 18.00. Ritme naik-turun ini berbanding lurus dengan intensitas transportasi pada tiap ruas jalan.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Yenni Ruslinda, Hendra Gunawanhttps://jbkd.ft.unand.ac.id/index.php/jbkd/article/view/187Analisis Perbandingan Daya Dukung Aksial dan Penurunan Fondasi Tiang Pancang Berdasarkan Beberapa Metode Interpretasi Data Sondir2026-07-16T06:06:57+00:00Rina Yulietrina@eng.unand.ac.idRiko Zulhendrarikozulhendra@eng.unand.ac.idMaulana Arifmaulanaarif@eng.unand.ac.idShafira Ayasharikozulhendra@eng.unand.ac.id<p>Perbedaan formulasi empiris berbasis data sondir dapat menghasilkan estimasi kapasitas daya dukung fondasi tiang yang berbeda, sehingga diperlukan evaluasi menggunakan beberapa metode untuk memperoleh desain fondasi yang aman dan efisien. Penelitian ini bertujuan membandingkan kapasitas daya dukung aksial dan penurunan fondasi tiang pancang pada Proyek Gedung Pelayanan BPKB Ditlantas Polda Sumatera Barat berdasarkan dua titik pengujian sondir. Kapasitas daya dukung aksial tiang tunggal dianalisis menggunakan metode Meyerhof, LCPC atau Bustamante dan Gianeselli, serta Nottingham–Schmertmann. Kapasitas kelompok tiang dianalisis menggunakan pendekatan jumlah kapasitas tiang tunggal dan pendekatan blok, sedangkan penurunan kelompok tiang dihitung menggunakan metode Meyerhof dan dibandingkan dengan batas penurunan yang diizinkan. Beban aksial maksimum hasil pemodelan struktur adalah sebesar 1.967,344 kN. Hasil analisis menunjukkan bahwa kapasitas daya dukung ultimit tiang tunggal berada pada rentang 2.451,664–3.811,212 kN. Nilai tertinggi diperoleh menggunakan metode LCPC pada Sondir 2, sedangkan nilai terendah diperoleh menggunakan metode Nottingham–Schmertmann pada Sondir 1. Perbedaan hasil antar metode terutama dipengaruhi oleh besarnya kontribusi tahanan ujung dan tahanan sisi, dengan metode LCPC menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap variasi data sondir. Pada konfigurasi kelompok yang terdiri atas empat tiang, diperoleh efisiensi kelompok sebesar 1,00 dan kapasitas daya dukung izin seluruh metode lebih besar daripada beban struktur. Penurunan kelompok tiang berkisar antara 0,431–0,666 cm dan masih berada di bawah batas penurunan izin. Dengan demikian, fondasi tiang pancang yang direncanakan memenuhi persyaratan keamanan terhadap daya dukung aksial dan penurunan.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Shafira Ayasha, Rina Yuliet, Riko Zulhendra, Maulana Arifhttps://jbkd.ft.unand.ac.id/index.php/jbkd/article/view/188Stability Evaluation of Tiered Retaining Walls Supporting an Islamic Boarding School Dormitory in Solok City2026-07-16T06:43:48+00:00Riko Zulhendrarikozulhendra@eng.unand.ac.idMaulana Arifmaulanaarif@eng.unand.ac.idNabila Siti Burnamanabilasiti@eng.unand.ac.idFebiana Maulanifebianamaulani@eng.unand.ac.idFebi Putri Yastarifebiputri@eng.unand.ac.idJeply Murdiaman Gucijeplymurdiaman@eng.unand.ac.idDwi Jenita Maharanidwijenita@eng.unand.ac.id<p>This study evaluates the stability of tiered gravity retaining walls supporting an Islamic boarding school dormitory in Solok City, Indonesia. The investigation was motivated by observed ground deformation, surface erosion, and damage to structures located near the slope. Subsurface conditions were characterised using cone penetration test data from two investigation points, CPT-1 and CPT-2. The CPT results were interpreted to establish soil stratigraphy and estimate the geotechnical parameters required for numerical analysis. A two-dimensional finite element model was developed using the Mohr–Coulomb constitutive model, incorporating the existing slope geometry, soil layers, dormitory loads, groundwater conditions, and retaining wall dimensions designed in accordance with SNI 8460:2017. Slope stability was evaluated using the shear strength reduction method. The existing slope produced a factor of safety of 2.43, indicating a relatively high stability margin against deep-seated failure. After the addition of the tiered retaining walls, the factor of safety increased to 2.60, corresponding to an improvement of approximately 7%. The results indicate that the retaining walls improve stability by supporting the stepped ground and restricting lateral soil movement. However, the relatively small increase suggests that the overall response remains primarily governed by the soil properties and slope geometry. Since both calculated safety factors exceeded 2.0, the observed damage was inferred to be more closely associated with shallow surface erosion and local soil loss during rainfall rather than global slope failure. These erosion processes were not explicitly modeled and represent a limitation of the study. Effective drainage and erosion protection are therefore essential to complement the proposed retaining wall system.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Riko Zulhendra, Maulana Arif, Nabila Siti Burnama, Febiana Maulani, Febi Putri Yastari, Jeply Murdiaman Guci, Dwi Jenita Maharanihttps://jbkd.ft.unand.ac.id/index.php/jbkd/article/view/189Pengembangan Model Prediksi Kecepatan Aliran Sungai Berdasarkan Variabilitas Curah Hujan Menggunakan Metode Regresi2026-07-17T05:32:49+00:00Nabila Siti Burnamanabilasiti@eng.unand.ac.idMaulana Arifnabilasiti@eng.unand.ac.idRiko Zulhendranabilasiti@eng.unand.ac.id<p>Sungai Kuranji merupakan salah satu sungai utama di Kota Padang, Sumatera Barat. Hulu sungai ini berada di area permukiman, pusat perdagangan, dan pusat pendidikan. Oleh karena itu, bagian hulu Sungai Kuranji rawan tergenang banjir dan membutuhkan perencanaan mitigasi bencana yang memadai. Pemanfaatan <em>machine learning</em> untuk meningkatkan mitigasi bencana, seperti prediksi dan peringatan dini banjir. <em>Machine learning </em>mempermudah pekerjaan manusia dengan mempelajari data yang diberikan, sehingga dapat mempercepat serta meningkatkan perhitungan dan analisis hidrologi, hidrolika, dan lain-lain dalam waktu yang lebih singkat. Pada penelitian ini, kecepatan aliran saluran diprediksi menggunakan metode regresi, yaitu regresi linier dan regresi logistik. Data masukan yang digunakan adalah data curah hujan, kecepatan aliran, dan geometri sungai. Kondisi aliran dibagi menjadi dua, yaitu saat curah hujan rata-rata dan saat curah hujan ekstrem. Data dibagi menjadi 70% untuk <em>training</em> dan 30% untuk <em>testing</em>. Validasi hasil prediksi model menggunakan koefisien korelasi (R²), di mana model dikatakan berhasil jika nilai koefisien korelasi di atas 0,8 atau 80%. Validasi hasil prediksi kecepatan aliran menggunakan metode regresi linier menunjukkan nilai R² untuk kecepatan aliran rata-rata sebesar 0,52 dan untuk kecepatan aliran maksimum sebesar 0,59. Sedangkan validasi untuk model dengan metode regresi logistik menghasilkan kecepatan aliran rata-rata sebesar 0,32 dan kecepatan aliran maksimum sebesar 0,36. Penelitian selanjutnya dapat menambahkan jumlah data masukan dan variabel prediksi untuk meningkatkan pembelajaran <em>machine learning</em>, sehingga model prediksi yang dihasilkan memberikan hasil yang lebih baik.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Nabila Siti Burnama, Maulana Arif, Riko Zulhendra